Untuk body

Kenali Gejala DBD Untuk Anak-anak Yang Harus di Waspadai

  • Bagikan
Kenali Gejala DBD Untuk Anak-anak Yang Harus di Waspadai

TRIPONNEWS.com – Kenali Gejala DBD Untuk Anak-anak Yang Harus di Waspadai. Musim hujan adalah sorganya bagi Nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albocpictus. Nyamuk ini akan menyebarkan penyakit Deman Berdarah dengan gigitannya.

Nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albocpictus diketahui sebagai salah satu pembawa penyakit, di antaranya demam bedarah (dengue).

Kementerian Kesehatan melaporkan lebih dari 14.000 kasus DBD yang terjadi di seluruh Indonesia, pada musih hujan tahun lalu 2020. Sekitar 145 jiwa mengalami kematian dari total jumbalah kasus. Pada musim penghujan tahun ini, tak ada salahnya jika kita mewaspadai penyakit akibat virus dengue ini.

Gejala umum yang muncul akibat gigitan nyamuk Aedes aegypti ini adalah demam yang mendadak, sakit kepala, ruam, dan nyeri di seluruh tubuh.

Baca Juga : Penyebab Batu Ginjal dan Gejalanya yang Patut di Waspadai

Bila gejala tersebut terjadi pada orang dewasa, biasanya akan cepat disadari. Namun, bagaimana dengan Anak-anak? Mereka masih sulit mengungkapkan yang dirasakan pada tubuh mereka. Sayangnya, sering kali kasus demam berdarah ringan tidak memiliki gejala yang muncul pada anak-anak dan juga remaja.

Gejala DBD Untuk Anak-anak Yang Harus di Waspadai

Merangkum dari Kelinik Dokter, Gejala DBD pada anak-anak dan Remaja biasanya terditeksi empat hingga tujuh hari kedepan setelah gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albocpictus. Gejala yang terlihat seperti berikut ini:

  1. Demam lebih dari 40 derajat Celcius mendadak dan tanpa sebab yang jelas
  2. Sakit kepala
  3. Nyeri otot, tulang, dan sendi
  4. Mual
  5. Muntah
  6. Rasa sakit di belakang mata
  7. Ruam
  8. Pendarahan ringan dari hidung atau gusi
  9. Tidak nafsu makan

Diagnosis Demam Berdarah

Jika ciri-ciri di atas muncul pada anak Anda, ada baiknya segera dibawa ke dokter untuk pemeriksaan dan melakukan Diagnosis.

Dokter akan melakukan diagnosis melalui pemeriksaan fisik dan wawancara medis. Selain itu pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan darah di laboratorium juga harus dilakukan.

Fase kritis Pada beberapa kasus

DBD bisa menyebabkan pembuluh darah menjadi rusak dan bocor. Tak hanya itu, trombosit darah juga bisa turun dan menyebabkan sindrom syok dengue. Pada posisi sindrom inlilah, yang dapat mengancam nyawa seseorang.

Salah satu masa krusial dalam kasus DBD yaitu pada saat demam atau suhu tubuh menunjukkan penurunan. Biasanya, demam akan mulai turun setelah 24 hingga 48 jam.

Baca Juga : Test Covid-19, Perbedaan Swab Antigen dan PCR dalam Pemeriksaan Covid-19

Siklus ini dikenal sebagai siklus tapal kuda, di mana masa demam turun adalah fase kritis. Tanda dan gejala demam berdarah menjadi berat atau memasuki fase kritis bisa dilihat seperti berikut ini:

  1. Nyeri perut parah
  2. Muntah terus menerus
  3. Pendarahan dari gusi atau hidung
  4. Keluar darah dalam urine, feses, atau muntah
  5. Bintik merah di bawah kulit yang terlihat seperti memar
  6. Sulit bernapas
  7. Kulit dingin atau basah
  8. Gelisah dan mudah marah

Pengobatan Demam Berdarah

Pengobatan yang spesifik untuk mengobati demam berdarah saat ini belum ada. Pengobatan bertujuan untuk mengatasi gejala dan mencegah infeksi virus semakin memberat. Beberapa upaya yang dianjurkan dokter, yaitu:

  • Banyak minum cairan agar terhindar dari dehidrasi;
  • Cukup istirahat;
  • Konsumsi obat penurun panas yang relatif aman dan dianjurkan dokter;
  • Menghindari konsumsi obat-obatan pereda nyeri. Hal ini dikarenakan obat-obatan tersebut dapat menimbulkan komplikasi perdarahan.
  • Pantau frekuensi buang air kecil dan jumlah urine yang keluar.

Pencegahan Demam Berdarah

Sebelum kita terkena DBD, Ada baiknya kita melakukan pencegahan terhadap perkembangbiakan nyamuk di lingkungan kita sendiri. Di bawah ini ada berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah demam berdarah, yaitu:

  • Vaksin dengue untuk anak usia 9-16 tahun, sebanyak 3 kali dengan jarak 6 bulan
  • Melakukan pengasapan insektisida atau fogging dengan jarak 1 minggu untuk memberantas sarang nyamuk
  • Menguras tempat penampungan air, seperti bak mandi, minimal setiap minggu;
  • Menutup rapat tempat penampungan air;
  • Melakukan daur ulang barang yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti;
  • Mengatur cahaya yang cukup di dalam rumah;
  • Memasang kawat anti nyamuk di ventilasi rumah;
  • Menaburkan bubuk larvasida (abate) pada penampungan air yang sulit dikuras;
  • Menggunakan kelambu saat tidur;
  • Menanam tumbuhan pengusir nyamuk;
  • Menghentikan kebiasaan menggantung pakaian;
  • Menghindari wilayah daerah yang rentan terjadi infeksi;
  • Mengenakan pakaian yang longgar; dan
  • Menggunakan krim anti-nyamuk yang mengandung

Baca Juga : Daftar Buah-buahan Yang Cocok Untuk Penderita Diabetes

  • Bagikan