5 Tanaman Penolak Desti Menurut Kepercayaan Hindu Bali – Bagi pecinta tanaman, adalah hal yang menyenangkan dalam mengihias rumah dengan tanaman-tanaman. Namun perlu diketahui ada beberapa tanaman yang di percaya masyarakat Hindu.
Khususnya di Bali memiliki energi sepiritual untuk menolak “desti” (ilmu hitam, energi negatif, atau gangguan gaib).
Dalam kepercayaan masyarakat Hindu Bali, alam dipercaya memiliki energi sepiritual yang dapat memengaruhi keseimbangan kehidupan manusia.
Selain melalui upacara dan doa, masyarakat Bali juga sering memanfaatkan tanaman tertentu sebagai simbol perlindungan dari energi negatif atau yang sering disebut “desti”.
Kepercayaan ini bukan sekadar mitos, tetapi merupakan bagian dari filosofi keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan yang dikenal dalam konsep Tri Hita Karana.
Tanaman-tanaman ini biasanya ditanam di halaman rumah atau dekat pintu masuk sebagai bentuk perlindungan secara sepiritual.
Simak juga : Tumpek Landep, Upacara Untuk Meningkatkan Ketajaman Pikiran
5 Tanaman Penolak Desti Menurut Kepercayaan Hindu Bali
Dirangkum dari beberapa sumber dan sastra ada banyak tanaman yang bisa menolak desti. Namun kali ini saya sebutkan 5 tanaman Penolak Desti Menurut Kepercayaan Hindu Bali.
Berikut beberapa tanaman yang dipercaya dapat membantu menjaga energi positif di lingkungan rumah.
1. Pohon Kelor
Kelor dikenal luas di berbagai daerah sebagai tanaman yang memiliki kekuatan sepiritual. Dalam tradisi Bali, daun kelor sering digunakan dalam ritual pembersihan diri atau rumah dari energi negatif.
Banyak orang percaya bahwa menanam kelor di halaman rumah dapat membantu menetralisir pengaruh buruk seperti santet atau desti. Selain itu, kelor juga terkenal sebagai tanaman herbal yang memiliki banyak manfaat kesehatan.
Pohon kelor (Moringa oleifera) adalah tanaman tropis dari keluarga Moringaceae yang berasal dari kawasan kaki Pegunungan Himalaya, India.
Tanaman ini kini tumbuh luas di Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Latin, dikenal sebagai “pohon ajaib” atau miracle tree karena kandungan gizi dan manfaatnya yang sangat tinggi.
Fakta Kunci
- Nama ilmiah: Moringa oleifera Lam.
- Famili: Moringaceae
- Asal: India bagian utara (kaki Himalaya)
- Ketinggian pohon: 7–15 meter
- Nama lokal: Kelor (Jawa, Sunda), maronggih (Madura), murong (Sumatra)
Ciri dan Morfologi
Pohon kelor berbatang tunggal berwarna abu-abu pucat dengan daun majemuk kecil berbentuk oval. Sedangkan Bunga kelor berwarna putih ke kuningan dengan aroma harum.
Sedangkan buahnya berupa polong panjang bersegi tiga disebut kelentang, berisi biji bersayap tipis.
Tanaman ini tumbuh cepat, tahan panas, dan dapat beradaptasi di lahan kering atau tandus
2. Pandan Berduri
Pandan berduri sering ditanam di sekitar rumah sebagai simbol perlindungan. Duri pada daun pandan melambangkan kekuatan yang mampu menghalau energi negatif.
Selain fungsi spiritual, pandan juga bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari karena daunnya sering digunakan sebagai bahan masakan, pewangi alami, hingga perlengkapan upacara adat.
Pandan berduri (sering disebut Pandanus tectorius) adalah spesies tumbuhan tropis yang termasuk dalam famili Pandanaceae.
Tumbuhan ini dikenal karena daunnya yang panjang dengan duri tajam di tepinya dan sering tumbuh di pantai atau daerah berpasir.
Tumbuhan ini memainkan peran penting secara ekologis sebagai penghalang erosi dan memiliki nilai ekonomi dan budaya di banyak wilayah tropis.
Fakta Penting
- Nama ilmiah: Pandanus tectorius
- Famili: Pandanaceae
- Habitat: Pantai tropis, dataran berpasir
- Distribusi: Asia Tenggara, Pasifik, Australia Utara
- Kegunaan utama: Anyaman, makanan, perlindungan pantai
Karakteristik dan Morfologi
Tumbuhan ini berupa semak besar atau pohon kecil, tumbuh setinggi 4–6 meter. Daunnya panjang, kaku, tersusun spiral, dan memiliki duri di tepi dan tulang daun.
Akar udara sering muncul dari pangkal batang untuk menopang tanaman di tanah berpasir. Buahnya berbentuk bulat dengan banyak segmen (drupa) dan berwarna oranye saat matang.
3. Tebu Ireng
Tebu ireng atau tebu hitam memiliki makna simbolis dalam tradisi Bali. Tanaman ini sering digunakan dalam berbagai ritual karena dipercaya memiliki energi pelindung yang kuat.
Menanam tebu ireng di halaman rumah dipercaya dapat membantu menjaga rumah dari gangguan gaib serta memberikan perlindungan spiritual bagi penghuni rumah.
Tebu ireng (tebu hitam) adalah varietas tebu (Saccharum officinarum) yang dikenal dengan batangnya yang berwarna ungu tua hingga hitam.
Varietas ini tumbuh subur di daerah tropis dan sering dibudidayakan di Indonesia sebagai bahan baku gula, sirup, dan minuman tradisional.
Warna gelap batangnya membedakannya dari tebu hijau atau kuning pada umumnya.
Fakta Penting
- Nama ilmiah: Saccharum officinarum L.
- Varietas lokal: Tebu ireng (tebu hitam)
- Ciri khas: Batang berwarna ungu tua hingga hitam
- Penggunaan utama: Produksi gula, minuman, dan bahan fermentasi
- Habitat tumbuh: Daerah tropis dengan curah hujan tinggi
Karakteristik dan morfologi
Tebu ireng (tebu hitam) memiliki batang silindris dan bersegmen yang mencapai panjang 2–4 meter.
Warna batangnya bervariasi dari ungu tua hingga hitam mengkilap, dengan serat tebu yang kuat dan kandungan gula yang tinggi.
Daunnya panjang, sempit, dan berwarna hijau muda. Batangnya mengandung getah manis, yang merupakan sumber sukrosa.
4. Tulsi atau Kemangi Suci
Tulsi dikenal sebagai tanaman suci dalam tradisi Hindu. Dalam ajaran Hindu, tanaman ini sangat dihormati dan sering ditanam di halaman rumah atau dekat tempat sembahyang.
Selain dipercaya membawa keberkahan, tulsi juga dianggap mampu menjaga kesucian lingkungan rumah dan membantu menghalau energi negatif.
Pohon Tulsi, dikenal juga sebagai Ocimum tenuiflorum atau Ocimum sanctum, adalah tanaman herbal aromatik dari keluarga mint (Lamiaceae).
Asal-usulnya dari anak benua India, di mana tanaman ini dianggap suci dalam budaya Hindu dan digunakan luas dalam pengobatan tradisional Ayurveda.
Fakta Kunci
- Nama ilmiah: Ocimum tenuiflorum
Asal: Anak benua India - Famili: Lamiaceae (mint)
- Status budaya: Tanaman suci dalam tradisi Hindu
- Kegunaan utama: Obat herbal dan ritual keagamaan
Deskripsi Botani
Tulsi adalah tanaman semak tahunan atau abadi yang dapat tumbuh setinggi 30–60 cm. Daun nya kecil, hijau atau ke unguan, dan mengeluarkan aroma khas saat di remas.
Bunga Tulsi berwarna putih hingga ungu muda, tersusun dalam tangkai panjang, dan menarik serangga penyerbuk.
Tanaman ini tumbuh baik di daerah tropis dengan sinar matahari penuh dan drainase baik.
5. Lidah Buaya
Selain terkenal sebagai tanaman obat, lidah buaya juga sering dipercaya memiliki kemampuan menyerap energi buruk di sekitar rumah.
Banyak orang menanam lidah buaya di depan rumah sebagai simbol perlindungan sekaligus untuk menjaga keseimbangan energi di lingkungan tempat tinggal.
Lidah Buaya, yang secara ilmiah dikenal sebagai Aloe vera, adalah tanaman sukulen tropis dari famili Asphodelaceae yang berasal dari Semenanjung Arab dan Afrika Utara.
Tanaman ini terkenal di seluruh dunia karena manfaatnya dalam pengobatan tradisional, kosmetik, dan perawatan kulit dan rambut.
Fakta Penting
- Nama ilmiah: Aloe vera (L.) Burm.f.
- Famili: Asphodelaceae (dahulu Liliaceae)
- Asal: Semenanjung Arab dan Afrika Utara
- Tipe tanaman: Sukulen, tinggi 30–100 cm
- Bagian yang digunakan: Daun dan gel bagian dalam
Karakteristik Botani
Daunnya tebal, berdaging, berwarna hijau keabu-abuan dengan tepi berduri halus. Daun tersusun dalam bentuk roset dan mengandung getah bening seperti gel yang kaya akan air, vitamin, dan enzim.
Batangnya sangat pendek dan tersembunyi oleh pangkal daun, sedangkan bunganya tumbuh pada tangkai hingga setinggi 90 cm dan berwarna kuning-oranye. Akarnya berserat dangkal, cocok untuk tanah berpasir dan kering.
Baca juga : Tanaman Kumis Kucing: Manfaat untuk Kesehatan Tubuh
Kesimpulan
Dalam kepercayaan Hindu Bali, tanaman tidak hanya berfungsi sebagai penghias halaman atau sumber pangan, tetapi juga memiliki makna spiritual yang mendalam.
Tanaman seperti kelor, pandan berduri, tebu ireng, hingga tulsi dipercaya dapat membantu menjaga rumah dari energi negatif dan menciptakan lingkungan yang harmonis.
Menanam tanaman-tanaman ini juga menjadi salah satu cara sederhana untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan alam, sejalan dengan filosofi kehidupan masyarakat Bali.










