Untuk body

Desa Wisata Pohsanten sebagai agrowisata cocoa di Jembrana Bali

  • Bagikan
Desa Wisata Pohsanten

JEMBRANA | TRIPONNEWS.com – Desa Wisata Pohsanten sebagai agrowisata cocoa di Jembrana Bali. Pemerintah Kabupaten Jembrana trus menggali potensi wilayahnya, khususnya dalam menajukan pariwisata di Jembrana. Kali ini dilakukan penataan argrococoa yang berada di Desa Pohsanten, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana.

Sebelum dijadikan sebagai desa wisata Pohsanten dikenal sebagai salah satu desa penghasil cocoa terbaik di jembaran yang sudah mampu memasuki pasar export ke bermacam negara.

Selain penghasil cocoa, Dusun Pohsanten memiliki alam yang asri dan alami yang memikat para wisatawan untuk berkunjung. Kondisi ini berpotensi untuk menjadikan pohsanten sebagai salah satu desa wisata di Bali.

Menurut Perbekel Desa Pohsanten” I Gusti Agung Kade Sultra Gunadi Putra, Desa pohsanten memang sejak dulu sudah terdaftar sebagai Desa penghasil kakao dan sudah memperoleh sertifikasi dari Francis. Setifikat ini di terima oleh pemilik kebun kakao Gede Sukandi.

Desa Wisata Pohsanten sebagai agrowisata cocoa di Jembrana Bali

Potensi Desa Wisata Pohsanten

Selainnya itu, banyak pejabat pemerintahaan yang pernah mengunjungi desa wisata pohsanten, diantaranya dari Made Urip, anggota DPR RI yang memberi kontribusi sejumlah Rp 200 juta untuk prasarana pengeringan bjji kakao. Dan Gubernur Bali Wayan Koster sempat berkunjung dengan memberikan dorongan semangat untuk para petani, agar terus berkarya.

Gunadi Putra juga mengatakan, selama ini hasil kakao petani di ambil langsung oleh konsumen dari Jepang, Australia dan Swiss. terangnya

Baca Juga : Fakta Unik Gamelan Jegog Ciri Khas Kesenian Asli Jembrana Bali

Selain itu pembeli biasanya memesan paling sedikit sepuluh ton, dan kami saat ini sampai kerepotan penuhi pesanan kakao karena keinginan banyak sedang produksi belum memenuhi, walau penyediaannya telah dikombinasi dengan produksi kakao dari dusun tetangga,” tambahnya

Kampung Coklat Pohsanten

Ditanyakan berkenaan masalah di atas lapangan, Gunadi Putra menjelaskan ada di proses pengeringan, di mana ‘solar dire’ (pengering dengan tenaga cahaya matahari) yang ada sama ukuran 6 x 4 mtr., tidak dapat banyak memuat biji kakao.

“Karena itu kami mengharap pada pihak pemerintahan berkaitan dapat menolong penyediaan ‘solar dire’ dalam beberapa unit supaya pengeringan biji kakao dapat semakin cepat dan dioptimalkan,” katanya.

Berkaitan Pohsanten sebagai desa wisata, maka akan dilakukan penataan cepat dengan mengkombinasikan dengan kegaitan wisata lainnya. Seperti : Trekking yang jaraknya cukup jauh, sekitaran 4,4 km ke arah air terjun. Lajur treking lewat bentangan kebun kakao dengan alam yang tetap terlindungi kelestarianya.

“Didukung fasilitas beberapa setop over (tempat peristirahatan) jika ada pelancong yang ingin bermalam. Saat ini telah ada banyak tamu yang berkunjung, dan umumnya di luar negeri,” katanya, semangat.

Baca Juga : Objek Wisata Ekowisata Mangrove Perancak, Jembrana Bali

Didukung oleh pemerintah jembrana bersama sejumblah mahasiswa politeknik Denpasar. Yang mengabdikan pengetahuannya kepada masyarakat dengan mengembangkan desa wisata cacao di pohsanten. Pengembangan ini sejak 27 oktober 2019, kata I Gusti Agung Kade Sultra Gunadi Putra, menerangkan.

  • Bagikan